Showing posts with label Kisah Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Kisah Hikmah. Show all posts

Save Rohingnya Mulims

Ancaman Anda atau siapapun kepada saya perihal tulisan saya karena dianggap memprovokasi masyarakat tidak membuat saya sedikitpun gentar. Justru saya akan semakin semangat menuliskan provokasi ini. Saya pernah berada di ujung pedang, terisolasi tanpa makanan, tak gentar dengan ocehan Anda wahai pengecut.

Anda bilang saya ibu rumah tangga bodoh. Ya , saya memang bodoh tapi tidak setolol Anda untuk sekadar berbicara sebagai manusia. Fakta tentang Muslim Rohingya telah saya ikuti dari beberapa tahun yang lalu bahkan sebelum saya melahirkan putri saya. Jadi, tolong Anda banyak berwisata ke YouTubeatau baca berita dalam bahasa Inggris terkait pembantaian Muslim Rohingya oleh Buddhist yang Anda pikir cinta damai.

Frank Ribery
FRANCK Ribery dikenal sebagai pribadi yang santun, rendah hati, dan rajin melaksanakan shalat lima waktu, di mana pun dan pada kondisi apa pun. Bagi penggemar sepak bola dunia, tentu sudah tak asing dengan nama Franck Ribery, gelandang serang asal Prancis yang kini bermain di klub raksasa Bundesliga (Jerman), Bayern Muenchen. Begitu juga, dengan mantan pemain terbaik dunia asal Prancis, Zinedine Zidane, Nicholas Anelka (Chelsea/Prancis), Frederik Kanoute (Sevilla/Mali), Khalid Bouhlahrouz (Sevilla), Zlatan Ibrahimovic (Inter Milan/Swedia), Eric Abidal (Barcelona/Prancis), Kolo Toure (Chelsea), dan Yaya Toure (Barcelona). Mereka adalah pemain sepak bola yang beragama Islam dan menjadi andalan klub maupun negaranya masing-masing.

MESKI dahulu kita memiliki masa lalu yang kelam, tapi hal itu bukan jadi alasan bagi kita untuk tidak berubah ke arah yang lebih
baik. Kita sebagai hamba Allah hanya bisa berharap, hari ini kita menjadi sosok yang baik dan sampai akhir hayat tetap baik di mata Allah SWT.
Dan inilah yang dialami oleh seorang Muslimah yang sering dipanggil Novi ini. Banyak orang yang tidak mengetahui kalau dahulunya dia adalah seorang vokalis band metal dan sering naik turun panggung. Hidayah Allah lah yang telah mengangkat dirinya dari jurang jahiliyah mengumbar suara dan aurat hingga akhirnya kembali ke Islam.

PERJALANANNYA dimulai saat ia bekerja di Saudi, namun awal mula mendapatkan hidayah setelah mendengar dan merasakan ketenangan saat adzan berkumandang di sebuah masjid dekat rumahnya di Manila.
Aisha Canlas, gadis Katolik asal Filipina bercerita tentang awal mula ia mengucapkan syahadat dan akhirnya memeluk Islam. Berikut kisahnya disarikan dari Onislam.net.
“Saya selalu memejamkan mata dan merasakan ketenangan dan kedamaian dalam hati meski saya tidak tahu arti kata-kata dalam azan itu,” kenang Canlas.
“Namun saat itu saya tidak terpikir untuk mencari tahu tentang Islam, apalagi memeluknya. Saya hanya suka mendengar suara adzan.”

PROFESOR James D. Frankel mengisahkan tentang perjalanannya mendapatkan hidayah. Profesor mata kuliah Perbandingan Agama di University of Hawaii, lahir di New York, Amerika Serikat pada 1969. Sejak kecil, James dibesarkan dalam keluarga Yahudi yang sekuler. Namun sejak berusia 13 tahun, James memilih untuk menjadi komunis setelah ia membaca buku Karl Marx.
James pernah punya teman yang berasal dari Pakistan bernama Mansour. Sahabatnya itu memberinya Alquran dan menyuruhnya membaca. Mungkin inilah saat pertama kali James bertemu seorang muslim.

Pagi itu Rasulullah SAW nampak sibuk memperhatikan bajunya dengan cermat, baju yang tinggal satu-satunya itu ternyata sudah usang. Dengan rizki uang delapan dirham, beliau segera menuju pasar untuk membeli baju.
Di tengah perjalanan, beliau bertemu dengan seorang wanita yang sedang menangis. Ternyata ia kehilangan uangnya. Dengan kemurahan hati, beliau memberikan 2 dirham untuknya. Tidak hanya itu, beliau juga berhenti sejenak untuk menenangkan wanita itu.
Setelah itu, Rasulullah SAW lalu melangkah ke pasar. Beliau langsung mencari barang yang diperlukannya. Dibelinya sepasang baju dengan harga 4 dirham lalu bergegas pulang. Di tengah perjalanan, beliau bertemu dengan seorang tua yang telanjang. Dengan iba, orang itu memohon sepotong baju yang baru dibelinya. Karena tidak tahan melihatnya, beliau langsung memberikan baju itu. Maka kembalilah beliau ke pasar untuk membeli baju lagi dengan uang tersisa 2 dirham, tentu saja kualitasnya lebih kasar dan jelek dari sebelumnya.

Bagaimana dengan hati anda jika melihat anak yang berjuang demi memenuhi kebutuhan hidupnya, tanpa membebankan orang tuanya, kemudian ia dengan karakter kesholehannya dan selalu memegang amanah majikannya? Anda sepertinya akan takjub dengan sosok anak seperti itu bukan.
Siapa sangka anak kecil pun dapat melakukan pekerjaan yang berat seperti orang dewasa. Mungkin satu dari seribu anak yang memiliki karakter kerja keras dan sholeh seperti itu, apalagi kalau jika dibandingkan dengan anak-anak sekarang pandangan kerja keras hanyalah tumpuan orang tuanya semata, anaknya hanyalah melakukan pekerjaan-pekerjaan ringan dan umumnya mereka memiliki aktivitas bermain saja.

;;